Andalusia dan Muslim Eropa

Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku dan mereka mencintai aku melebihi anak dan orang tua mereka.

(Tertera dalam kitab Kanzul Ummal, hadits lemah menurut Ibnu Katsir)

*versi PDF dari artikel ini dapat didownload ANDALUSIA DAN MUSLIM EROPA atau disini*

Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan kembali hadist nabi yang menyatakan bahwa akan ada umat yang belum pernah melihat Nabi Muhammad tapi mereka beriman sepenuh hati dan memegang teguh Islam.  Dakwah rahmatan lil alamin pulalah yang membawa berbagai umat di dunia mengenal Islam, tidak hanya untuk kalangan Arab pada waktu itu sesuai perintah Al Qur’an dalam surat Assyuura : 7 berikut.

1

“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya”

Siapakah yang menaklukan konstantinopel sesuai hadist yang diucapkan pada tahun 600 Masehi berikut :

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]

Umat Islam dari Turkilah yang menaklukannya 700 tahun kemudian (1453 Masehi) dibawah pimpinan Muhamad Al Fatih  (Meḥmed-i s̠ānī dalam bahasa Turk)i, bukan orang-orang jazirah Arab.  Siapakah umat Islam yang menaklukan Andalusia (Spanyol) pertama kali, mereka adalah orang-orang muslim dari suku berber (penduduk asli Afrika Utara yang berkulit gelap i.e Aljazair, Maroko, Libya dll) bukan orang jazirah Arab.  Dan ini menegaskan kembali bahwa Islam diturunkan bukan untuk orang Arab, tapi untuk seluruh umat manusia, sebagaimana dalam Al Qur’an :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”(QS. Al-Anbiya’: 107).

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (QS. Al-A’raf: 158)

Muslim Arab tidak lebih tinggi derajatnya dibandingkan muslim yang lain, derajat manusia di mata Allah hanya diukur dari ketaqwaannya.  Kemudian, siapakah muslim berber ini?

Dalam bahasa Inggris mereka disebut “Moor”.  Moor adalah semua penduduk Muslim dari Maghribi (sebelah barat semenanjung Arab), Semenanjung Iberia, Sisilia, dan Malta selama Abad Pertengahan. Istilah Moor awalnya merupakan sebutan untuk suku Berber dan keturunan Arab, meskipun istilah itu kemudian diterapkan untuk muslim Afrika dan orang-orang dari campuran keturunan.  Penduduk Spanyol menyebutnya “moro”, dan dalam bahasa Portugis disebut “mouro”.  Pada masa ekspansi mencari rempah-rempah, pribumi muslim digeneralisir dengan sebutan moro oleh kolonialis Portugis-Spayol seperti “Ceylon Moors” dan “Indian Moors”.  Contoh yang dekat adalah penduduk muslim Filipina Selatan yang berdiam di pulau Mindanao, Sulu dan Palawan disebut orang moro hingga kini, warisan kolonialis Spanyol yang menjajah kepulauan Filipina.  Muslim berber yang terkenal dalam sejarah penaklukan Andalusia adalah Tariq bin Ziyad.  Bukit dimana beliau menyiapkan pasukannya disebut Gibraltar hingga kini, adaptasi bahasa spanyol untuk bahasa Arab Jabal Ṭāriq (جبل طارق), yang bermakna Bukit Tariq.  Selat dimana beliau menyebrangkan ribuan pasukannya dari daratan Afrika ke Spanyol disebut Selat Gibraltar.  Beliau dikenang para sejarawan muslim, dimana saat mendaratkan pasukannya di Spanyol, beliau membakar semua kapal pengangkut pasukannya.

Dengan gagah berani ia berseru,”Kita datang ke sini tidak untuk kembali. Di hadapan kita musuh di belakang adalah laut. Kita hanya punya pilihan, menaklukkan negeri ini dan menetap di sini, atau kita semua syahid.”

 

2

3.jpg

Kata-kata Tariq itu bagaikan cambuk yang melecut semangat prajurit muslim yang dipimpinnya. Bala tentara muslim yang berjumlah 12.000 orang maju melawan tentara Visigoth Spanyol yang berkekuatan 100.000 tentara. Pasukan katolik Visigoth jauh lebih unggul baik dalam jumlah maupun persenjataan. Namun semua itu tak mengecutkan hati pasukan muslim.

 

Tanggal 19 Juli tahun 711 Masehi, pasukan Islam dan Katolik bertemu, keduanya berperang di dekat muara sungai Barbate. Pada pertempuran ini, Tariq dan pasukannya berhasil melumpuhkan pasukan Visigoth, hingga Raja Roderick tenggelam disungai itu. Kemenangan Tariq yang luar biasa ini, menjatuhkan semangat orang-orang Spanyol dan semenjak itu mereka tidak berani lagi menghadapi tentara Islam secara terbuka.

 

Tariq membagi pasukannya menjadi empat kelompok dan menyebarkan mereka ke Cordoba, Malaga dan Granada. Sedangkan dia sendiri bersama pasukan utamanya menuju ke Toledo, ibukota Spanyol. Semua kota-kota itu menyerah tanpa perlawanan berarti. Kecepatan gerak dan kehebatan pasukan Tariq berhasil melumpuhkan pasukan Visigoth.

Perilaku Tariq dan orang-orang Islam begitu mulia sehingga mereka lebih disukai oleh penduduk yang ditaklukkannya.  Salah satu pertempuran paling menarik terjadi di Ecija, yang membawa kemenangan bagi pasukan Tariq. Dalam pertempuran ini, Musa bin Nusair, atasannya, sang Raja muda Islam di Afrika utara ikut bergabung dengannya. Selanjutnya, kedua jenderal itu bergerak maju terus berdampingan dan dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun seluruh dataran Spanyol jatuh ke tangan Islam. Portugis ditaklukkan pula beberapa tahun kemudian. “ini merupakan perjuangan utama yang terakhir dan paling sensasional bagi bangsa Arab itu,” tulis Phillip K.Hitti, “dan membawa masuknya wilayah Eropa yang paling luas yang belum pernah mereka peroleh sebelumnya ke dalam kekuasaan Islam. Kecepatan pelaksanaan dan kesempurnaan keberhasilan operasi ke Spanyol ini telah mendapat tempat yang unik di dalam sejarah peperangan abad pertengahan.”

Penaklukkan Spanyol oleh orang-orang Islam mendorong timbulnya revolusi sosial di mana kebebasan beragama benar-benar diakui.  Tiga agama Yahudi, Nasrani dan Islam hidup damai berdampingan.  Keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu, sehingga jika tentara Islam yang melakukan kekerasan akan dikenakan hukuman berat. Tidak ada harta benda atau tanah milik rakyat yang disita.Orang-orang Islam memperkenalkan sistem perpajakan yang sangat jitu yang dengan cepat membawa kemakmuran di semenanjung itu dan menjadikan negeri teladan di Barat. Orang-orang Kristen dibiarkan memiliki hakim sendiri untuk memutuskan perkara-perkara mereka. Semua komunitas mendapat kesempatan yang sama dalam pelayanan umum. Pemerintahan Islam yang baik dan bijaksana ini membawa efek luarbiasa. Orang-orang Kristen termasuk pendeta-pendetanya yang pada mulanya meninggalkan rumah mereka dalam keadaan ketakutan, kembalipulang dan menjalani hidup yang bahagia dan makmur. Seorang penulis Kristen terkenal menulis:”Muslim-muslim Arab itu mengorganisir kerajaan Kordoba yang baik adalah sebuah keajaiban Abad Pertengahan, mereka mengenalkan obor pengetahuan dan peradaban, kecemerlangan dan keistimewaan kepada dunia Barat. Dan saat itu Eropa sedang dalam kondisi percekcokan dan kebodohan yang biadab.”Pada saat itu, arsitektur dan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat.  Tariq bermaksud menaklukkan seluruh Eropa, tapi Allah menentukan lain. Saat merencanakan penyerbuan ke Eropa melalui Prancis, datang panggilan dari Khalifah untuk pergi ke Damaskus. Dengan disiplin dan kepatuhan tinggi, Tariq memenuhi panggilan Khalifah dan berusaha tiba seawal mungkin di Damaskus. Tak lama kemudian, Tariq wafat di sana. Muslim berkulit gelap setelah Bilal yang terkenal sebagai penakluk Spanyol, wilayah Islam terbesar di Eropa yang selama delapan abad di bawah kekuasaan Islam telah memenuhi panggilan Rabbnya. Semoga Allah merahmatinya

 

 

CORDOBA

Kota Cordoba terletak di sungai al-Wadi al-Kabir di bagian Selatan Spanyol. Kota ini didirikan oleh bangsa Cordoba yang tunduk kepada pemerintahan Romawi dan Visigoth (Bangsa Goth) (Maus’ah al-Maurid al-Hadits). Kota ini ditaklukkan oleh panglima Islam yang terkenal, Thariq bin Ziyad, pada tahun 93 H / 711 M. Sejak saat itu kota Cordoba memulai tatanan hidup baru dan mengukir sejarah yang sangat penting dalam sejarah peradaban umat manusia. Kecemerlangan Cordoba sebagai kota peradaban mencapai puncaknya pada tahun 138 H / 759 M, ketika Abdurrahman ad-Dakhil mendirikan daulah Umayyah II di Andalusia setelah sebelumnya runtuh di Damaskus oleh orang-orang Abbasiyah.

4.jpg

Kota Cordoba tampak dari atas

Pada masa Abdurrahman an-Nashir, khalifah pertama Umayyah di Andalusia, kemudian putranya al-Hakam al-Mustanshir, Kota Cordoba mencapai puncak kemajuan dan masa keemasannya. Apalagi kota ini dijadikan sebagai ibu kota Daulah Umayyah II dan tempat istana kekhalifahan di dunia Barat.

Pada masa ini, Cordoba juga dijadikan sebagai pusat ilmu pengetahuan dan peradaban dunia sehingga menyaingi Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Bizantium di benua Eropa, Kota Baghdad ibu kota Daulah Abbasiyah di Timur, Kota Kairawan dan Kairo di Afrika, sehingga orang-orang Eropa menyebut Cordoba dengan “Mutiara Dunia”.

Perhatian Dinasti Umayyah terhadap Kota Cordoba mencakup beberapa sisi kehidupan, seperti: pertanian, perindustrian, pembangunan benteng-benteng, pembuatan senjata, dan lain sebagainya. Mereka juga membuat aliran-aliran air dan mengimpor berbagai macam pohon dan tanaman buah untuk di tanam di kota ini.

Berikut ini beberapa bangunan yang menunjukkan kemajuan peradaban di Andalusia terutama di Kota Cordoba. Dari sini kita dapat mengetahui sumbangan-sumbangan Islam dalam perjalanan sejarah manusia.

Jembatan Cordoba

Termasuk salah satu keistimewaan Cordoba adalah Jembatan Cordoba yang letaknya ada di sungai al-Wadi al-Kabir. Jembatan ini dikenal dengan nama al-Jisr dan Qantharah ad-Dahr. Panjangnya sekitar 400 m, lebar 40 m, dan tingginya 30 m.

6

Jembatan Cordoba

Ibnu al-Wardi dan al-Idrisi meberikan kesaksian bahwa jembatan tersebut melebihi jembatan-jembatan yang lain dari segi kemegahan bangunan dan kecanggihannya (Kharidah al-Aja’ib wa Faridah al-Ghara-ib, Hal. 12).

Jembatan yang menakjubkan tersebut dibangun pada permulaan abad kedua Hijriyah tahun 101 H, atau sejak 14 abad yang lalu menyempurnakan jembatan romawi yang ada. Jembatan ini dibangun oleh Gubernur Andalusia, as-Samh bin Malik al-Khaulani di masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz. Artinya, jembatan ini dibangun pada saat manusia belum mengenal sarana transportasi kecuali binatang: keledai, onta, bighal, dan kuda. Dan ketika itu, sarana-sarana pembangunan belum secanggih saat ini. Hal inilah yang menjadikan jembatan tersebut salah satu kebanggaan peradaban Islam.

Masjid Cordoba

7.jpg

Masjid Raya Cordoba

Masjid Jami’ Cordoba merupakan salah satu unsur peradaban Cordoba yang sangat penting dan masih tetap bertahan hingga sekarang. Masjid tersebut dalam bahasa Spanyol disebut Mezquita, yang diambil dari kata masjid. Masjid ini adalah masjid yang paling masyhur di Andalusia, bahkan di seluruh Eropa. Namun, sekarang masjid ini dijadikan sebagai katedral. Masjid ini mulai dibangun Abdurrahman ad-Dakhil tahun 170 H / 786 M., kemudian diteruskan oleh putranya Hisyam dan khalifah-khalifah setelahnya. Setiap khalifah memberikan sesuatu yang baru kepada masjid tersebut, dengan memperluas dan memperindahnya agar menjadi masjid yang paling indah di Cordoba dan masjid terbesar di dunia saat itu.

Para khalifah memberikan perhatian yang besar terhadap Masjid Cordoba ini. Mereka memberikan tambahan demi tambahan, penyempurnaan demi penyempurnaan hingga mencapai tingkat yang sempurna, bangunan yang membuat kagum, dan tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Tidak ada masjid kaum muslimin yang menyerupai masjid ini dari segi keindahan, luas, dan besarnya. Separuh masjid dibuat beratap dan separuhnya lagi tidak.  Berdasarkan catatan sejarawan muslim yang mendeskripsikan masjid ini (ar-Raudh al-Mi’thar fi Khabar al-Aqthar, 1/456-457), masjid ini memiliki empat belas lengkungan bangunan yang beratap. Ada 1000 tiang, baik tiang yang besar ataupun kecil. Ada 113 sumber penerangan, penerangan yang terbesar terdapat 1000 lampu dan yang paling kecil memuat 12 lampu.

Empat belas atap kecil di masjid cordoba yang merupakan atap bangunan masjid yang asli sebelum direnovasi menjadi katedral tampak pada diorama di museum vivo del al andalus (torre de la callahora)

Tiang-tiang dan lengkungan-lengkungan khas di dalam Masjid Cordoba

Seluruh kayunya berasal dari pohon cemara Thurthusy. Besar pasaknya satu jengkal dan panjangnya 30 jengkal, antara satu pasak dengan pasak yang lain dipasang pasak yang besar. Di atapnya terdapat bermacam-macam seni ukir yang antara satu dengan yang lain tidak sama. Susunannya dibuat sebaik mungkin dan warna-warnanya terdiri dari warna merah, putih, biru, hijau, dan hitam celak. Arsitektur dan warna-warni itu menyenangkan mata dan menarik hati. Luas tiap-tiap penyusun atap adalah tiga puluh tiga jengkal. Jarak antara satu tiang dengan tiang yang lain lima belas hasta, dan masing-masing tiang bagian atas dan bawahnya dibuat dari batu marmer pualam.

Masjid ini mempunyai mihrab yang sangat indah, dihiasi ukiran-ukiran dengan teknik yang sempurna, dan terdapat mozaik yang dilapisi emas. Di dua arah mihrab ada empat tiang, dua tiang berwarna hijau dan dua lagi berwarna violet kehijau-hijauan. Di bagian ujung dipasangi lapisan marmer yang dihias dengan emas, lazuardi, dan warna-warna lainnya. Di sebelah mihrab terdapat mimbar yang keindahannya tidak ada yang menandinginya; kayunya adalah kayu ebony, box, dan kayu untuk wewangian.

Ruangan dan pintu-pintu di sebelah mihrab utama masjid cordoba

Di sebelah Utara mihrab terdapat gudang yang di dalamnya terdapat beberapa wadah yang terbuat dari emas, perak, dan besi. Semuanya untuk tempat nyala lampu pada setiap malam ke-27 bulan Ramadhan. Di gudang ini juga teradapat mushaf besar yang hanya dapat diangkat oleh dua orang, dan juga terdapat mushaf Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu yang beliau tulis dengan tangannya sendiri. Mushaf ini dikeluarkan setiap pagi oleh para penjaga masjid. Mushaf ditempatkan di atas kursi dan imam membaca separuh hizb darinya, kemudian dikembalikan ke tempatnya semula.

Di sebelah kanan mihrab dan mimbar adalah pintu yang menuju ke istana, terletak di antara dua dinding masjid yang berupa lorong yang beratap. Di lorong ini ada delapan pintu; empat pintu dari arah istana tertutup dan empat pintu dari arah masjid juga tertutup. Sedangkan masjid ini memiliki 20 pintu yang dilapisi dengan tembaga. Setiap pintu memiliki dua gagang pintu yang indah. Daun pintu dihiasai dengan beberapa butiran yang terbuat dari bata merah yang ditumbuk dengan berbagai macam hiasan yang lain.

Dalam setiap bagian dari empat arah lingkaran menara terdapat dua buah lengkungan yang dibuat batu marmer. Di samping menara juga ada ruang yang memiliki empat pintu tertutup. Ruang ini digunakan tempat tidur oleh dua muadzin setiap malam. Di atas ruang terdapat tiga wadah minyak yang terbuat dari emas dan dua wadah lainnya terbuat dari perak dan daun tumbuhan lili.  Keterangan yang hampir sama juga diberikan oleh Ibnu al-Wardi dalam kitabnya Kharidhah al-Aja’ib wa Faridah al-Ghara’ib.

14.jpg

Mihrab Masjid Cordoba yang masih berhiaskan kaligrafi Alquran

 

Namun, hal yang menyedihkan dan membuat air mata berlinang, masjid yang megah ini telah diubah menjadi katedral sejak jatuhnya Andalusia dari tangan kaum muslimin. Masjid ini kemudian berada di bawah kontrol gereja, walaupun namanya tetap diabadikan. Menaranya yang tinggi menjulang dan megah telah berubah menjadi tempat lonceng kebaktian gereja untuk menyembunyikan karakter Islamnya. Adapun dinding-dindingnya masih dipenuhi dengan ukiran ayat-ayat Alquran yang mencitrakan daya artistik yang tinggi. Masjid ini sekarang menjadi salah satu bagian dari tempat sejarah yang paling masyhur di dunia.  Semua yang ada dalam catatan sejarawan muslim sudah tidak ada lagi saat kami berkesempatan ziarah kesana April 2016 lalu.  Dengan arsitektur yang “katanya” mirip sekali  dengan Masjid Nabawi, kini sudah tidak terasa syahdu. Merinding total ketika masuk ke dalamnya dan melihat langsung mihrab (tempat imam memimpin sholat), sama seperti tulisan Hanum Salsabiella Rais dalam bukuny 99 Cahaya di Langit Eropa.  Kami mencoba menggunakan aplikasi GPS pengarah kiblat di mihrab ini, hati kami bergemuruh melihat mihrab ini sudah mengarah ke kiblat dengan tepat sebelum ditemukan teknologi GPS.   Dan seketika pula melihat Mihrab Indah yang telah dijeruji. Miris. Air mata tak tertahankan lagi menangisi sejarah. Dulunya, ini adalah tempat khalifah-khalifah kerajaan Islam di Andalusia rapat memikirkan strategi perang, juga pusat, jantung kehidupan umat Islam jaman itu, dan kini, seperti Mihrab yang terpenjara di Mezquita, Islam pun terpenjara di Spanyol sejak Reconquesta (1492 Masehi, 7 abad dalam pemerintahan muslim) dimana pilihannya hanya ada dua, keluar dari Islam atau dibunuh.  Semboyan ini diabadikan dalam symbol bendera perang (coat of arm) dan patung-patung yang bisa kita lihat sekarang ini

Patung Gerado Sem Pavor memenggal prajurit Moor

20.JPG

Universitas Cordoba

Peran Masjid Cordoba tidak hanya sebagai tempat ibadah, namun masjid ini juga berfungsi sebagai universitas, bahkan salah satu yang paling masyhur di dunia dan markas ilmu di Eropa. Dari universitas ini, ilmu-ilmu Arab ditransfer ke Eropa selama berabad-abad. Segala cabang ilmu diajarkan di sini dan para pengajarnya merupakan orang-orang yang sangat kompeten di bidangnya. Para pencari ilmu datang ke unversitas ini, baik dari Timur maupun dari Barat. Para pengajar dan dosen diberi imbalan dengan gaji yang layak agar mereka fokus mengabdikan diri untuk mengajar dan menulis dengan baik. Para siswa pun diberi uang saku secara khusus, dan orang-orang yang tidak mampu diberikan beasiswa dan bantuan.

Itulah yang memperkaya khazanah ilmiah secara signifikan di Cordoba pada saat itu. Dan Cordoba mampu melahirkan ilmuan-ilmuan yang mengabdi kepada Islam dan kaum muslimin secara khusus dan dunia secara umum. Tidak hanya di bidang ilmu tertentu, akan tetapi juga di berbagai disiplin ilmu. Di antara mereka adalah az-Zahrawi (325 – 404 H / 936 – 1013 M), seorang ahli bedah yang paling masyhur, dokter, dan ahli obat-obatan, dan pembuatannya. Ada juga Ibnu Bajah, Muhammad al-Ghafiqi, Ibnu Abdil Bar, Ibnu Rusy, al-Idrisi, Abu Bakar Yahya bin Sa’dun bin Tamam al-Azdi, Qadhi al-Qurthubi an Nahwi, al-Hafizh al-Qurthbi, Abu Ja’far al-Qurthubi, dan masih banyak ilmuan-ilmuan lainnya.

21.jpg

Patung Mohammad Al Ghafiqi di Universitas Cordoba, lokasinya tidak jauh dari mesjid cordoba. Nama aslinya Abu Ja’far Muhammad ibn Qassoum ibn Aslam Al-Ghafiqi (1165 M).  Beliau seorang ahli obat-obatan asal Andalusia (Spanyol), juga dikenal sebagai salah seoran ahli opthalmologi (mata) terbesar. Ilmuwan Muslim yang satu ini juga turut memberi kontribusi dalam pengembangan farmakologi dan farmasi. Sumbangan Al-Ghafiqi untuk memajukan ilmu tentang komposisi, dosis, meracik dan menyimpan obat-obatan dituliskannya dalam kitab Al-Jami’ Al-Adwiyyah Al-Mufradah. Risalah itu memaparkan tentang pendekatan dalam metodologi, eksperimen, serta observasi dalam farmakologi dan farmasi.

by: Multatuli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s